Rabu, Januari 14, 2009

Seberapa Beruntungnya Anda?


“Oh, kebetulan saja ia beruntung”. Pernah mendengar seseorang mengatakannya?. Orang senantiasa berusaha mencari-cari alasan untuk menutupi kekurangan mereka dengan meremehkan kesuksesan orang lain.
Saya yakin ada sejumlah keberuntungan yang mempengaruhi kesuksesan orang-orang yang berhasil meraih prestasi tinggi, tapi keberuntungan yang menghinggapi mereka bukanlah sesuatu yang pasti. Mereka yang berprestasi tidak membiarkan keberuntungan datang menghampiri akan tetapi mempersiapkan diri sebaik-baiknya dan mencari peluang keberuntungan untuk ditemukan.
Kerapkali yang menjadi masalah terbesar dalam kesuksesan adalah bagaimana seseorang memandang kesuksesan tersebut. Mereka tidak tahu bagaimana kerasnya usaha yang dilakukan oleh mereka yang sukses untuk berusaha mencapai kondisi puncak tersebut. Yang mereka lihat hanyalah hasil akhirnya. Saat Anda melihat photo seorang teman di puncak gunung menikmati matahari terbit, Anda merasakan kayaknya menyenangkan bisa berphoto dengan latabelakang pemandangan lembah dan tiupan angin yang maha kencang. Anda dan saya tahu, hal-hal apa yang dilakukan oleh para pendaki gunung untuk bisa mencapai puncak gunung: mempersiapkan fisik dan perbekalan, berjalan ditengah kegelapan malam sambil menghalau rasa dingin di saat sebagian besar orang menikmati kehangatan selimut, menampaki jalan menanjak yang melelahkan yang membuat frustasi, menahan godaan untuk berhenti dan kembali ke base-camp, serta berpacu dengan waktu mengejar sun-rise di puncak gunung dengan sisa-sisa tenaga. Tidak sedikit yang tidak berhasil mencapai puncak gunung dan harus memulai lagi dari awal proses pendakian yang melelahkan, baik secara fisik maupun mental.
Bagi mereka yang belum mengalami pengalaman mendaki gunungnya, bisa dengan mudah mengatakan “dia pasti beruntung bisa mendakinya dan turun dengan selamat”. Beruntung karena cuacanya mendukung, beruntung karena punya perlengkapan, dan beruntung karena bisa mendapatkan pemandu yang berpengalaman. Begitu juga dengan pandangan terhadap mereka yang sukses. Tidak sedikit orang yang mengatakan bahwa seseorang terlahir dengan penuh keberuntungan sehingga bisa sukses. Beruntung karena orang tuanya mengajari bisnis, beruntung karena anak orang kaya, beruntung karena mendapat beasiswa dan sekolah di luar negeri, beruntung jadi orang ganteng/cantik, dan beruntung punya relasi banyak. Mereka memandang bahwa kesuksesan datang “hanya” dari keberuntungan. Mereka gagal untuk melihat “hal-hal yang tidak dilakukan” oleh dirinya tapi dilakukan oleh orang-orang sukses.
Kalau Anda ingin mengetahui apa perbedaannya, lihatlah apa yang dilakukan orang-orang sukses ketika orang kebanyakan beristirahat dan bersenang-senang. Seperti seorang pendaki gunung, saat orang lain terlelap tidur, mereka bangun untuk mempersiapkan perbekalan, berjalan melawan rasa dingin yang menusuk tulang, menunda kenikmatan tidur guna mendapatkan kenikmatan berdiri di puncak gunung, melawan rasa frustasi karena merasakan perjalanan menanjak yang seolah tanpa ujung. Tanyalah pada mereka yang sukses, setiap orang sukses pasti memiliki rahasia sendiri yang menyebabkan dirinya bisa berhasil. Rahasia yang dia lakukan manakala yang lain terlelap tidur atau menghabiskan waktu dengan bersenang-senang. Kuncinya adalah memiliki kemauan yang kuat untuk menunda kenikmatan sesaat agar bisa mendapatkan kenikmatan yang lebih besar. Menunda kenikmatan libur hari sabtu dan minggu selama 1,5 tahun untuk bisa menyelesai program master, menunda menghabiskan gaji agar bisa menabung untuk bisa berangkat ke tanah suci, dan menunda kenikmatan tidur dengan bekerja lebih keras lagi. Mereka yang sukses berani untuk mengorbankan kenikmatan yang lebih kecil guna meraih kenikmatan yang lebih besar.
Jadi kalau Anda mendengar seseorang mengatakan kesuksesan seseorang hanya karena keberuntungan, tidak seorangpun dapat mengubah pola pikirnya. Mereka adalah kelompok orang yang memang tidak berhasrat untuk belajar dari orang lain agar bisa sukses. Mereka menutup segala kemungkinan untuk bisa berhasil melalui satu: “dia beruntung, dan saya tidak!”. Saran saya, jangan jadi bagian dari kelompok tersebut.

1 komentar:

wishbeukhti mengatakan...

saya senang sekali membaca artikel Bpk, menambah spirit saya untuk
keep fighting :)
kesuksesan itu diusahakan, diikhtiarkan, bukan ditunggu dengan tangan tengadah ke langit semata :)
terima kasih sharingnya Pak.