Tahun 2009 sudah hampir sebulan kita lalui, para ahli ekonomi baik dari dalam maupun luar negeri tetap memprediksikan bahwa tahun 2009 merupakan tahun yang “penuh dengan keprihatinan” . Kompas edisi 29/1/09 memprediksikan akan ada lebih dari 50 juta orang kehilangan pekerjaan di seluruh dunia karena krisis global ini. Kita seolah mengalami siklus sepuluh tahunan, di mana tahun 1998, krisis ekonomi yang menghantam Indonesia telah membuat jumlah orang miskin bertambah menjadi lebih dari dua kali lipat dari sebelumnya.
Bagaimana dengan tahun 2009? Pastinya krisis yang menimpa kita saat ini tidak akan lebih baik dari krisis 2008 yang bersifat regional. Krisis ekonomi kali ini bersifat global dan membawa dampak menyeluruh ke hampir semua belahan dunia.
Tapi apakah kondisi ini lantas membuat kita menjadi “loyo”? Apalagi bagi Anda yang mulai berpikir untuk berwirausaha, Anda pasti bertanya-tanya, apakah ini saat yang tepat untuk berbisnis?. Bagaimana kalau bisnis saya malah rugi karena menurunnya purchasing power pelanggan? Semuanya berpulang kepada diri Anda sendiri untuk dapat menjawabnya. Bagaimana Anda memaknai krisis ini, apakah akan tergerus ataukah justru berdiri semakin tegar karenanya.
Untuk dapat mengetahuinya, Anda perlu jujur untuk menilai diri Anda. Tipe karakter apa yang sesungguhnya Anda miliki saat ini? Apa Anda orang yang cenderung menyerah saat menghadapi kesulitan dalam hidup, atau justru orang yang malah termotivasi dalam menghadapinya.
Setiap kesulitan yang kita hadapi menciptakan tekanan (pressure) terhadap diri kita. Dampak tekanan tersebut bisa berakibat secara fisik maupun psikis yang berbeda-beda pada setiap orang tergantung ketahanan di dalam menghadapinya. Para ahli psikologi mengklasifikasikan empat tipe karakter orang di dalam menghadapi tekanan dalam hidupnya. Pertama adalah Tipe Kayu. Sesuai dengan sifatnya, kayu apalagi yang rapuh, jika menerima tekanan akan lebih mudah patah. Orang berkarakter kayu gampang sekali “patah” pada saat menghadapi tekanan. Mereka menganggap diri nya sebagai korban dari keadaan (tidak beruntung), lebih sering mengeluh, merasa tidak berdaya, meminta bantuan serta menyalahkan sesuatu di luar dirinya. Bagi mereka tekanan dalam hidup adalah sesuatu yang harus dihindari baik dengan cara sembunyi maupun melarikan diri. Mereka adalah orang yang patut dikasihani, karena sesungguhnya meskipun dewasa secara usia, tetapi belum dewasa secara mental. Orang-orang seperti ini perlu mendapatkan latihan tentang bagaimana menghadapi kesulitan. Pola pengasuhan yang salah serta kebiasaan untuk mendapatkan segala sesuatu secara “instant” telah membuat mereka untuk menjadi pribadi-pribadi yang rapuh dan mudah patah secara mental.
Tipe Kedua adalah Tipe Besi. Orang tipe ini biasanya mampu bertahan dalam jangka waktu lebih lama saat menghadapi tekanan. Sebagaimana besi, ketika tekanan semakin besar dan kompleks, ia mulai bengkok dan tidak bisa kembali lagi ke posisi awal. Dalam kehidupan nyata, orang dengan karakter besi biasanya tahan dalam menghadapi kesulitan-kesulitan kecil di awal, namun ketika intensitas kesulitan semakin besar, mereka akan “membengkokkan diri” dan kehilangan fokus dari tujuan awalnya. Tekanan yang menghampiri telah membuat mereka “keluar dari jalur” yang semestinya. Mereka menjadi berkompromi terhadap tekanan dan mau menerima apapun yang disodorkan kepada dirinya. Orang dengan karakter besi sesungguhnya memiliki fondasi untuk meraih kesuksesan. Hanya saja dibutuhkan seorang pembimbing yang akan menempanya kembali menjadi “lurus” yakni setia pada tujuan awal yang dicita-citakan.
Tipe ketiga adalah Tipe Sponge (busa). Coba perhatikan busa, tak perduli seberapa kuat Anda menekannya, dia akan kembali kepada bentuk awalnya. Dia fleksibel mengikuti tekanan, tapi tekanan tidak bisa merubah bentuk awalnya. Orang yang berkarakter Sponge adalah orang yang fleksibel, yang mampu menahan tekanan, seberat apapun, dan tetap setia dan berkomitmen kuat memperjuangkan cita-citanya. Segala halangan dan rintangan tidak akan membuat dirinya “patah dan bengkok”. Dia akan selalu dapat melupakan kegagalan dan mau memulai lagi dari awal serta berfokus kembali pada targetnya.
Tipe yang terakhir adalah Tipe Bola Ping Pong. Ambillah bola ping pong dan pukulkan ke tembok, apa yang akan terjadi? Semakin keras Anda memukulnya, semakin keras pula daya pantulnya. Ini adalah tipe die-hard, orang yang justru akan “meledak” saat menghadapi kesulitan. Semakin keras tantangan yang mereka hadapi semakin berkomitmen mereka untuk bekerja lebih keras, mengeluarkan ide-ide kreatifnya serta bekerja lebih baik lagi agar bisa mengatasi tantangan yang dihadapi. Dan jika kesulitan berhasil ditaklukan, mereka terkadang sering menciptakan tantangan lagi untuk bisa dipecahkan. Kalau kita membaca kisah orang-orang sukses, kita menemukan sebuah pola yang sama, bahwa mereka justru menjadi besar dengan memanfaatkan kesulitan hidup dan tekanan yang datang. Banyak karya-karya besar di dunia ini justru lahir di balik jeruji penjara, kesuksesan usaha lahir dari kebangkrutan, kesuksesan hidup lahir dari kenestapaan, dan prestasi lahir dari ketidaksempuranaan diri. Anda akan mendapatkannya di dalam biografi Konosuke Matsushita, Thomas Alva Edison, dan Kolonel Sanders serta orang-orang sukses lainnya. Mereka adalah orang yang “memantul” sama kerasnya, bahkan lebih keras, daripada tekanan yang mereka terima.
Jadi ketika krisis ekonomi menerpa kita, pilihannya ada ditangan Anda. Apakah Anda akan “patah, bengkok”, mampu bermanuver secara fleksibel atau malah “memantul” secara kreatif. Tapi yakinlah satu hal, kalau Anda melakukan pekerjaan rumah dengan baik di “malam hari”, maka Anda akan lebih baik ketika siang harinya. Krisis bukanlah sesuatu yang patut disesali dan ditangisi, ibarat hari, ada siang dan malam, maka akan ada pertumbuhan dan ada penurunan/krisis. Yang terpenting adalah apa yang kita lakukan di masa krisis akan memberikan dampak ketika ekonomi bertumbuh kembali. Ibarat petani, saat krisis adalah saat menabur benih, saat berinvestasi, dan kita akan menunggu hasilnya ketika musim panen tiba. Jadi kreatif-lah mencari peluang bisnis justru disaat krisis menghadang.
Kamis, Januari 29, 2009
Rabu, Januari 14, 2009
Seberapa Beruntungnya Anda?

“Oh, kebetulan saja ia beruntung”. Pernah mendengar seseorang mengatakannya?. Orang senantiasa berusaha mencari-cari alasan untuk menutupi kekurangan mereka dengan meremehkan kesuksesan orang lain.
Saya yakin ada sejumlah keberuntungan yang mempengaruhi kesuksesan orang-orang yang berhasil meraih prestasi tinggi, tapi keberuntungan yang menghinggapi mereka bukanlah sesuatu yang pasti. Mereka yang berprestasi tidak membiarkan keberuntungan datang menghampiri akan tetapi mempersiapkan diri sebaik-baiknya dan mencari peluang keberuntungan untuk ditemukan.
Kerapkali yang menjadi masalah terbesar dalam kesuksesan adalah bagaimana seseorang memandang kesuksesan tersebut. Mereka tidak tahu bagaimana kerasnya usaha yang dilakukan oleh mereka yang sukses untuk berusaha mencapai kondisi puncak tersebut. Yang mereka lihat hanyalah hasil akhirnya. Saat Anda melihat photo seorang teman di puncak gunung menikmati matahari terbit, Anda merasakan kayaknya menyenangkan bisa berphoto dengan latabelakang pemandangan lembah dan tiupan angin yang maha kencang. Anda dan saya tahu, hal-hal apa yang dilakukan oleh para pendaki gunung untuk bisa mencapai puncak gunung: mempersiapkan fisik dan perbekalan, berjalan ditengah kegelapan malam sambil menghalau rasa dingin di saat sebagian besar orang menikmati kehangatan selimut, menampaki jalan menanjak yang melelahkan yang membuat frustasi, menahan godaan untuk berhenti dan kembali ke base-camp, serta berpacu dengan waktu mengejar sun-rise di puncak gunung dengan sisa-sisa tenaga. Tidak sedikit yang tidak berhasil mencapai puncak gunung dan harus memulai lagi dari awal proses pendakian yang melelahkan, baik secara fisik maupun mental.
Bagi mereka yang belum mengalami pengalaman mendaki gunungnya, bisa dengan mudah mengatakan “dia pasti beruntung bisa mendakinya dan turun dengan selamat”. Beruntung karena cuacanya mendukung, beruntung karena punya perlengkapan, dan beruntung karena bisa mendapatkan pemandu yang berpengalaman. Begitu juga dengan pandangan terhadap mereka yang sukses. Tidak sedikit orang yang mengatakan bahwa seseorang terlahir dengan penuh keberuntungan sehingga bisa sukses. Beruntung karena orang tuanya mengajari bisnis, beruntung karena anak orang kaya, beruntung karena mendapat beasiswa dan sekolah di luar negeri, beruntung jadi orang ganteng/cantik, dan beruntung punya relasi banyak. Mereka memandang bahwa kesuksesan datang “hanya” dari keberuntungan. Mereka gagal untuk melihat “hal-hal yang tidak dilakukan” oleh dirinya tapi dilakukan oleh orang-orang sukses.
Kalau Anda ingin mengetahui apa perbedaannya, lihatlah apa yang dilakukan orang-orang sukses ketika orang kebanyakan beristirahat dan bersenang-senang. Seperti seorang pendaki gunung, saat orang lain terlelap tidur, mereka bangun untuk mempersiapkan perbekalan, berjalan melawan rasa dingin yang menusuk tulang, menunda kenikmatan tidur guna mendapatkan kenikmatan berdiri di puncak gunung, melawan rasa frustasi karena merasakan perjalanan menanjak yang seolah tanpa ujung. Tanyalah pada mereka yang sukses, setiap orang sukses pasti memiliki rahasia sendiri yang menyebabkan dirinya bisa berhasil. Rahasia yang dia lakukan manakala yang lain terlelap tidur atau menghabiskan waktu dengan bersenang-senang. Kuncinya adalah memiliki kemauan yang kuat untuk menunda kenikmatan sesaat agar bisa mendapatkan kenikmatan yang lebih besar. Menunda kenikmatan libur hari sabtu dan minggu selama 1,5 tahun untuk bisa menyelesai program master, menunda menghabiskan gaji agar bisa menabung untuk bisa berangkat ke tanah suci, dan menunda kenikmatan tidur dengan bekerja lebih keras lagi. Mereka yang sukses berani untuk mengorbankan kenikmatan yang lebih kecil guna meraih kenikmatan yang lebih besar.
Jadi kalau Anda mendengar seseorang mengatakan kesuksesan seseorang hanya karena keberuntungan, tidak seorangpun dapat mengubah pola pikirnya. Mereka adalah kelompok orang yang memang tidak berhasrat untuk belajar dari orang lain agar bisa sukses. Mereka menutup segala kemungkinan untuk bisa berhasil melalui satu: “dia beruntung, dan saya tidak!”. Saran saya, jangan jadi bagian dari kelompok tersebut.
Saya yakin ada sejumlah keberuntungan yang mempengaruhi kesuksesan orang-orang yang berhasil meraih prestasi tinggi, tapi keberuntungan yang menghinggapi mereka bukanlah sesuatu yang pasti. Mereka yang berprestasi tidak membiarkan keberuntungan datang menghampiri akan tetapi mempersiapkan diri sebaik-baiknya dan mencari peluang keberuntungan untuk ditemukan.
Kerapkali yang menjadi masalah terbesar dalam kesuksesan adalah bagaimana seseorang memandang kesuksesan tersebut. Mereka tidak tahu bagaimana kerasnya usaha yang dilakukan oleh mereka yang sukses untuk berusaha mencapai kondisi puncak tersebut. Yang mereka lihat hanyalah hasil akhirnya. Saat Anda melihat photo seorang teman di puncak gunung menikmati matahari terbit, Anda merasakan kayaknya menyenangkan bisa berphoto dengan latabelakang pemandangan lembah dan tiupan angin yang maha kencang. Anda dan saya tahu, hal-hal apa yang dilakukan oleh para pendaki gunung untuk bisa mencapai puncak gunung: mempersiapkan fisik dan perbekalan, berjalan ditengah kegelapan malam sambil menghalau rasa dingin di saat sebagian besar orang menikmati kehangatan selimut, menampaki jalan menanjak yang melelahkan yang membuat frustasi, menahan godaan untuk berhenti dan kembali ke base-camp, serta berpacu dengan waktu mengejar sun-rise di puncak gunung dengan sisa-sisa tenaga. Tidak sedikit yang tidak berhasil mencapai puncak gunung dan harus memulai lagi dari awal proses pendakian yang melelahkan, baik secara fisik maupun mental.
Bagi mereka yang belum mengalami pengalaman mendaki gunungnya, bisa dengan mudah mengatakan “dia pasti beruntung bisa mendakinya dan turun dengan selamat”. Beruntung karena cuacanya mendukung, beruntung karena punya perlengkapan, dan beruntung karena bisa mendapatkan pemandu yang berpengalaman. Begitu juga dengan pandangan terhadap mereka yang sukses. Tidak sedikit orang yang mengatakan bahwa seseorang terlahir dengan penuh keberuntungan sehingga bisa sukses. Beruntung karena orang tuanya mengajari bisnis, beruntung karena anak orang kaya, beruntung karena mendapat beasiswa dan sekolah di luar negeri, beruntung jadi orang ganteng/cantik, dan beruntung punya relasi banyak. Mereka memandang bahwa kesuksesan datang “hanya” dari keberuntungan. Mereka gagal untuk melihat “hal-hal yang tidak dilakukan” oleh dirinya tapi dilakukan oleh orang-orang sukses.
Kalau Anda ingin mengetahui apa perbedaannya, lihatlah apa yang dilakukan orang-orang sukses ketika orang kebanyakan beristirahat dan bersenang-senang. Seperti seorang pendaki gunung, saat orang lain terlelap tidur, mereka bangun untuk mempersiapkan perbekalan, berjalan melawan rasa dingin yang menusuk tulang, menunda kenikmatan tidur guna mendapatkan kenikmatan berdiri di puncak gunung, melawan rasa frustasi karena merasakan perjalanan menanjak yang seolah tanpa ujung. Tanyalah pada mereka yang sukses, setiap orang sukses pasti memiliki rahasia sendiri yang menyebabkan dirinya bisa berhasil. Rahasia yang dia lakukan manakala yang lain terlelap tidur atau menghabiskan waktu dengan bersenang-senang. Kuncinya adalah memiliki kemauan yang kuat untuk menunda kenikmatan sesaat agar bisa mendapatkan kenikmatan yang lebih besar. Menunda kenikmatan libur hari sabtu dan minggu selama 1,5 tahun untuk bisa menyelesai program master, menunda menghabiskan gaji agar bisa menabung untuk bisa berangkat ke tanah suci, dan menunda kenikmatan tidur dengan bekerja lebih keras lagi. Mereka yang sukses berani untuk mengorbankan kenikmatan yang lebih kecil guna meraih kenikmatan yang lebih besar.
Jadi kalau Anda mendengar seseorang mengatakan kesuksesan seseorang hanya karena keberuntungan, tidak seorangpun dapat mengubah pola pikirnya. Mereka adalah kelompok orang yang memang tidak berhasrat untuk belajar dari orang lain agar bisa sukses. Mereka menutup segala kemungkinan untuk bisa berhasil melalui satu: “dia beruntung, dan saya tidak!”. Saran saya, jangan jadi bagian dari kelompok tersebut.
Selasa, Januari 13, 2009
The Power of Mind

Pikiran kita berperan besar dalam tindakan kita sehari-hari. Jauh lebih besar daripada yang orang bayangkan. Untuk sukses berwirausaha atau dalam bidang apapun (kuliah atau kerja), hal pertama yang harus Anda miliki adalah keyakinan diri yang kuat dan pikiran yang fokus bahwa Anda bisa berhasil dan sukses.
Ada banyak orang yang tidak akan pernah merasakan nikmatnya kesuksesan karena mereka telah memutuskan bahwa kesuksesan terlalu berat bagi mereka dan bahwa kesuksesan hanya diperuntukan bagi segelintir orang yang beruntung. Pikiran yang membatasi telah mensabotase potensi diri mereka sehingga mereka mau menerima apapun yang mereka terima dalam hidupnya.
Pikirkan baik-baik: Hal apa saja yang menurut Anda tidak dapat diraih dalam kehidupan ini? Saya yakin tindakan Anda pasti akan menjauh darinya karena pikiran “tidak mampu” mensabotase potensi diri Anda sehingga tindakan Anda untuk mewujudkannyapun jadi minimal.
Tidak jarang saya mendengar komentar dari seseorang yang saya temui, “Mudah bagi Anda untuk berhasil karena Anda lulusan luar negeri” atau “Saya tidak mungkin sesukses Anda”. Anda tahu, ia benar. Ia tidak akan bisa sesukses saya. Bukan karena saya lebih baik atau lebih pintar dari dia, tetapi karena ia telah membatasi pikiranyya. Pikirannya akan mengendalikan segala tindakannya, yang pada gilirannya akan mengendalikan hasil akhirnya. Pola pikirnya telah menentukan hasil akhirnya.
Jangan terjebak dalam pikiran mengapa Anda tidak mampu berprestasi. Berpikirlah bahwa kalau orang lain bisa maka Anda pun bisa jika melakukannya dengan strategi yang sama. Yakinkan diri Anda kalau orang lain bisa, Anda juga pasti bisa. Kalau belum yakin juga, temui orang yang percaya dengan potensi diri Anda dan belajarlah darinya. Kalau menemui hambatan, terobos-lah sebagaimana seorang Karateka memecahkan balok es/kayu dan besi dragon.
God Bless U!
Ada banyak orang yang tidak akan pernah merasakan nikmatnya kesuksesan karena mereka telah memutuskan bahwa kesuksesan terlalu berat bagi mereka dan bahwa kesuksesan hanya diperuntukan bagi segelintir orang yang beruntung. Pikiran yang membatasi telah mensabotase potensi diri mereka sehingga mereka mau menerima apapun yang mereka terima dalam hidupnya.
Pikirkan baik-baik: Hal apa saja yang menurut Anda tidak dapat diraih dalam kehidupan ini? Saya yakin tindakan Anda pasti akan menjauh darinya karena pikiran “tidak mampu” mensabotase potensi diri Anda sehingga tindakan Anda untuk mewujudkannyapun jadi minimal.
Tidak jarang saya mendengar komentar dari seseorang yang saya temui, “Mudah bagi Anda untuk berhasil karena Anda lulusan luar negeri” atau “Saya tidak mungkin sesukses Anda”. Anda tahu, ia benar. Ia tidak akan bisa sesukses saya. Bukan karena saya lebih baik atau lebih pintar dari dia, tetapi karena ia telah membatasi pikiranyya. Pikirannya akan mengendalikan segala tindakannya, yang pada gilirannya akan mengendalikan hasil akhirnya. Pola pikirnya telah menentukan hasil akhirnya.
Jangan terjebak dalam pikiran mengapa Anda tidak mampu berprestasi. Berpikirlah bahwa kalau orang lain bisa maka Anda pun bisa jika melakukannya dengan strategi yang sama. Yakinkan diri Anda kalau orang lain bisa, Anda juga pasti bisa. Kalau belum yakin juga, temui orang yang percaya dengan potensi diri Anda dan belajarlah darinya. Kalau menemui hambatan, terobos-lah sebagaimana seorang Karateka memecahkan balok es/kayu dan besi dragon.
God Bless U!
Langganan:
Entri (Atom)
